QUNUT PADA SHOLAT SUBUH
A.
Pendahuluan
Sudah menjadi
satu kebiasaan di kebanyakan masjid yang ada di tanah air kita ketika shalat
Shubuh berjamaah, imam selalu membaca do'a qunut setelah rukuk pada raka'at
terakhir dengan bacaan "Allohummahdinaa fiiman hadait ...dst."
kemudian diaminkan oleh para makmum di belakangnya.
Do'a tersebut
kebanyakan telah dihafal oleh kalangan awam, lebih-lebih mereka yang dianggap
pandai dalam urusan agama. Hal ini dikarenakan do'a qunut ini tidak pernah
mereka tinggalkan. Atau, mereka menganggap itu merupakan sunnah rawatib (sunnah
yang selayaknya dilaksanakan terus) dalam shalat Shubuh. Atau bahkan yang lebih
ekstrem, menganggap bahwa qunut Shubuh merupakan suatu keharusan yang tidak
boleh ditinggalkan, sehingga tidak jarang kita jumpai seorang makmurn yang
sedang shalat dengan seorang imam yang tidak dikenalnya, kemudian tatkala
irnarnnya tidak membaca qunut dan langsung sujud setelah i'tidal, maka dia (si
makmum) segera membatalkan shalatnya dan mengulangi shalatnya, atau kalau tidak
demikian maka dia terus mengikuti imamnya sampai salam kernudian mengulangi
shalat Shubuhnya karena dia menganggap shalat Shubuhnya tidak sah tanpa qunut.
Terjadinya hal
tersebut tidak lain karena faktor ketidaktahuan mereka dalarn masalah ini, atau
memang mereka tidak mau tahu lantaran mereka telah terjerat oleh perangkap
taqlid buta, atau fanatik madzhab, atau sebab lainnya.
Untuk
mengetahui bagairnana yang benar, kita harus kembalikan kepada Alloh dan
Rasul-Nya yang lebih mengetahui semua khilaf di antara manusia. Untuk itu, pada
edisi kali ini penulis akan mengulas dengan singkat permasalahan qunut dalam
shalat baik qunut shalat Shubuh, qunut Witir, atau yang lainnya. Mudah-mudahan
Alloh Ta'ala memudahkannya.
B.
Pengertian Qunut
Kata qunut dalam ungkapan ayat ataupun hadits,
terkadang memiliki makna lain selain bacaan doa, yaitu taat, berdiri, khusyuk,
diam, selalu dalam ibadah, dan tasbih. Makna-makna tersebut bisa dikaji dalam
ayat-ayat berikut ini, ar-Rum: 26, az-Zumar: 9, at-Tahrim: 12, al-
Baqarah: 328, an-Nahl: 16, al-Ahzab: 31 dan Ali Imran: 43.[1]
Sebagaimana
dalam kutipkan (ringkasan) dari Himpunan Putusan Tarjih (HPT), makna qunut
adalah sebagai makna asli dari perkataan
qunut yang berarti ‘tunduk kepada Allah dengan penuh kebaktian’,
Muktamar dalam keputusannya menggunakan makna qunut yang berarti
‘berdiri lama dalam shalat dengan membaca ayat al-Qur’an dan doa sekehendak
hati’[2].
Pendapat ini didasarkan sebagaimana pengertian tersebut dari hadits:
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقُنُوْتِ
Artinya: “Shalat yang paling afdhal ialah qunut yang lama.”
(HR. Muslim dan Ahmad)
Maksudnya, yang lama berdirinya. Inilah maknanya berdasarkan
kesepakatan ulama, sebagaimana kata an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim. (lihat Nashbur Rayah, 2/132, dan
Zadul Ma’ad, 1/267—268
Dari pengertian di atas, penggunaan makna qunut dipahami, sebagai
berikut bahwa:
1.
Qunut dengan arti berdiri lama untuk membaca dan berdoa di dalam shalat,
itu masyru’ (ada tuntunannya).
2.
Tidak
membenarkan adanya pengertian qiyam di atas dikhususkan untuk qunut
shubuh yang sudah dikenal dan diperselisihkan hukumnya.
3.
Nabi
saw. menjalankan qunut nazilah sampai Allah menurunkan ayat:
لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ
يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ (آل عمران: 128)
Artinya:
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah
menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu
orang-orang yang dzalim.” (QS. Ali Imran: 128)
C.
Macam-Macam Qunut
1.
Qunut Nazilah
Jelasnya bahwa Rasulullah saw. pada beberapa kesempatan telah
mengerjakan qunut nazilah dalam hubungan penganiayaan orang kafir
terhadap kelompok orang Islam. Dalam doa tersebut Rasulullah mohon dikutuknya
mereka yang telah melakukan kejahatan dan dimohonkan pembalasan Allah terhadap
mereka.
وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ
اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ اَلرُّكُوعِ يَدْعُو
عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ اَلْعَرَبِ ثُمَّ تَرَكَهُ )
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari
Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah
berqunut setelah ruku' selama sebulan untuk mendoakan kebinasaan sebagian
bangsa Arab kemudian beliau meninggalkannya. Muttafaq Alaihi.
َوَعَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ
لَا يَقْنُتُ إِلَّا إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ )
صَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ
Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa
Sallam tidak berqunut kecuali jika beliau mendoakan kebaikan atas suatu kaum
atau mendoakan kebinasaan atas suatu kaum. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah
Kemudian turunlah ayat:
لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ
يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ (آل عمران: 128)
Pemahaman yang timbul dari riwayat tersebut ialah:
1.
Bahwa
qunut nazilah tidak lagi boleh diamalkan
2.
Boleh
dikerjakan dengan tidak menggunakan kata kutukan dan permohonan pembalasan
terhadap perorangan.
2.
Qunut Witir
Hadits yang dijadikan alasan bagi qunut witir
diperselisihkan oleh ahli-ahli hadits. Muktamar masih merasa memerlukan
penelitian dan mempertimbangkan dasar perbedaan penilaian ahli-ahli hadits
tersebut. Maka diambil keputusan tawaqquf untuk membahas pada lain
kesempatan.
Adapun Haditsnya sebagai berikut:
َوَعَنْ اَلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ; قَالَ
: ( عَلَّمَنِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي
قُنُوتِ اَلْوِتْرِ : " اَللَّهُمَّ اِهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ
وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ
وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ
فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ إِنَّهُ لَا يَزِلُّ مَنْ
وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ
زَادَ النَّسَائِيُّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ فِي آخِرِهِ : ( وَصَلَّى اَللَّهُ عَلَى
اَلنَّبِيِّ)
Hasan Ibnu Ali Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu
'alaihi wa Sallam telah mengajariku kata-kata untuk dibaca dalam qunut witir
yaitu (artinya = Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang
telah Engkau berti petunjuk berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang telah
Engkau beri kesehatan pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau
pimpin berilah aku berkah atas segala hal yang Engkau berikan selamatkanlah aku
dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan karena hanya Engkaulah yang menghukum
dan tidak ada hukuman atas-Mu sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah
Engkau tolong Maha Berkah Engkau Tuhan kami dan Maha Tinggi). Riwayat Imam
Lima. Thabrani dan Baihaqi menambahkan: (artinya = Tidak akan mulia orang yang
telah Engkau murkai). Hadits riwayat Nasa'i dari jalan lain menambahkan pada
akhirnya: (artinya = Semoga sholawat Allah Ta'ala selalu terlimpah atas Nabi).
3.
Qunut Shubuh
Pada
perkembangan sejarah fiqh, di masa lampau orang telah cenderung untuk memberi
arti khusus pada apa yang dinamakan qunut, yakni: ‘berdiri sementara’
pada shalat shubuh sesudah ruku’ pada rakaat kedua dengan membaca:
اَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ … الخ
Alasan Dalil yang menjadi pijakan diamalkannya qunut
subuh, karena berdasarkan riwayat beriku:
وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-
: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ
فِي اَلْقُنُوتِ مِنْ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ ) وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ
Menurut riwayat Baihaqi bahwa Ibnu Abbas berkata: Adalah Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajari kami doa untuk dibaca dalam qunut pada
sholat Shubuh. Dalam sanadnya ada kelemahan.
Begitu pula juga dikuatkan hadits berikut:
َوَلِأَحْمَدَ وَاَلدَّارَقُطْنِيِّ نَحْوُهُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ
وَزَادَ : ( فَأَمَّا فِي اَلصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ
اَلدُّنْيَا)
Riwayat Ahmad dan Daruquthni dari jalan lain tetapi dengan tambahan:
Adapun dalam sholat Shubuh beliau selalu berqunut hingga meninggal dunia.
D.
Kajian Tahrij Hadits:
Secara lengkap sanad dan matan hadits tentang qunut shubuh
sebagaimana riwayat Imam al-Baihaqi sebagai berikut:
سنن
البيهقى - )ج 2 / ص 398(
وَرَوَاهُ الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ كَمَا
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ :
حَسَّانُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ : مُحَمَّدُ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ الأَزْرَقُ
حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ
هُرْمُزَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو
بِهِ فِى الْقُنُوتِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ :« اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ
هَدَيْتَ ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ،
وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، إِنَّكَ
تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ
رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ».
Adapun hadits penguat sebagaimana
teks sanad dan matannya adalah sebagai berikut:
سنن
البيهقى - (ج 2 / ص 359)3229 - أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : مُحَمَّدُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : مُحَمَّدُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَّارُ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مِهْرَانَ
الأَصْبَهَانِىُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا أَبُو
جَعْفَرٍ الرَّازِىُّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ : أَنَّ النَّبِىَّ
-صلى الله عليه وسلم- قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ ، ثُمَّ تَرَكَهُ ،
فَأَمَّا فِى الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا.
سنن الدارقطنى - (ج 4 / ص 406) 1712 - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ
بْنِ بُهْلُولٍ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى ح
وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ
السُّلَمِىُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ
الرَّازِىُّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله
عليه وسلم- قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ ثُمَّ تَرَكَهُ وَأَمَّا فِى
الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا. لَفْظُ
النَّيْسَابُورِىِّ .
تقريب
الأسانيد وترتيب المسانيد للعراقى - (ج 1 / ص 29)
وَقَالَ النَّوَوِيُّ الْمُخْتَارُ لَوْ ثَبَتَ أَنْ يُحْمَلَ عَلَى
فِعْلِهِ مَرَّةً لِبَيَانِ الْجَوَازِ.. بَابُ الْقُنُوتِ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ {لَمَّا
رَفَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ
الأَخِيرَةِ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ قَالَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ
الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ والمستضعفين
بِمَكَّةَ اللَّهُمَّ اُشْدُدْ وَطْأَتَك عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ
كَسِنِي يُوسُفَ} وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا {قَنَتَ بَعْدِ الرُّكُوعِ فِي
صَلاَتِهِ شَهْرًا يَدْعُو لِفُلاَنٍ وَفُلاَنٍ، ثُمَّ تَرَكَ الدُّعَاءَ لَهُمْ}،
وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ {قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ يَدْعُو عَلَى
أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، ثُمَّ تَرَكَهُ} زَادَ الدَّارَقُطْنِيُّ
وَالْحَاكِمُ وَالْبَيْهَقِيُّ وَصَحَّحُوهُ {فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ
يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا}.
Dari data
program, setahu kami belum dijumpai diriwayat Imam Ahmad kecuali hanya dari
musnad imam al Baihaqi dan Musnad Imam ad-Daruqhutni.
D.1 Kajian Sanad hadits:
Nama Rowi berdasarkan urutan Sanad sebagaimana yang terdapat dalam
kitab Musnad al-Baihaqi Juz 2 Hal 398, adalah sebagai berikut:
البيهقى -
الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ - أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ –
أَبُو الْوَلِيدِ : حَسَّانُ بْنُ مُحَمَّدٍ
الْفَقِيهُ - أَبُو بَكْرٍ : مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ –
هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ الأَزْرَقُ - الْوَلِيدُ
بْنُ مُسْلِمٍ - ابْنُ جُرَيْجٍ - ابْنِ هُرْمُزَ –
ْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ - عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ –
رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
Komentar ahli tahrij terhadap sanad
adalah sebagai berikut:
1.
الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ :
الاسم : الوليد بن مسلم القرشى
مولاهم أبو العباس الدمشقى ، مولى بنى أمية ( و قيل مولى العباس بن محمد بن على بن
عبد الله بن عباس )
الطبقة : 8 : من
الوسطى من أتباع التابعين
رتبته عند ابن حجر : ثقة لكنه كثير التدليس و التسوية
رتبته عند الذهبي : عالم أهل الشام ، قال ابن المدينى : ما رأيت من
الشاميين مثله ، قلت : كان مدلسا ، فيتقى من حديثه ما قال فيه : عن
من تكلم فيه وهو موثق - (ج 1 / ص 191) ثقة لكنه مدلس عن الضعفاء فلا
بد أن يصرح بالسماع إذا احتج به إما إذا قيل عن فليس بحج
قال المزي في تهذيب الكمال : روى عن إسحاق بن عبد الله بن أبى فروة () إسحاق بن عبيد الله بن أبى مليكة () أبى رافع إسماعيل بن رافع
المدنى البخترى
بن عبيد () بكر
بن مضر المصرى ()
2.
أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظ :
3.
الحافظ الجوال صاحب التصانيف
4.
قال أبو نعيم في تاريخه هو حافظ من أولاد المحدثين مات في
سلخ ذي القعدة سنة 395 اختلط آخر عمره.. إلى آخر كلامه
5.
أَبُو الْوَلِيدِ : حَسَّانُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ : majhul
6.
أَبُو بَكْرٍ : مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ :
محمد بن عبد الملك الكبير
أبو إسماعيل روى عن إسماعيل بن أبي خالد وطبقته وعنه وهب بن بقية وصفه بن حبان
بالتدليس وكذا أطلق فيه الذهبي في تذهيب التهذيب
خت م 4 محمد بن عجلان المدني تابعي صغير مشهور من شيوخ
مالك وصفه بن حبان بالتدليس
خ ن د س ق محمد بن عيسى بن نجيح أبو جعفر بن الطباع ثقة
مشهور قال صاحبه أبو داود كان مدلسا وكذا وصفه الدارقطني
محمد بن محمد بن سليمان الباغندي
الحافظ البغدادي أبو بكر مشهور بالتدليس مع الصدق والامانة مات بعد الثلاثمائة قال
الاسماعيلي لا اتهمه ولكنه يدلس وقال بن المظفر لا ينكر منه الا التدليس وقال
الدارقطني يكتب عن بعض أصحابه ثم يسقط بينه وبين شيخه ثلاثة
7.
هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ الأَزْرَقُ : tidak diketahui asal usulnya sehingga
termasuk majhul
8.
الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ :
الاسم : الوليد بن مسلم القرشى
مولاهم أبو العباس الدمشقى ، مولى بنى أمية ( و قيل مولى العباس بن محمد بن على بن
عبد الله بن عباس )
الطبقة : 8 : من
الوسطى من أتباع التابعين
الوفاة : 194 أو 195 هـ
روى له : خ م د ت س ق
( البخاري - مسلم - أبو داود - الترمذي - النسائي - ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر :
ثقة لكنه كثير التدليس و التسوية
رتبته عند الذهبي : عالم أهل الشام ، قال ابن المدينى : ما رأيت من
الشاميين مثله ، قلت : كان مدلسا ، فيتقى من حديثه ما قال فيه : عن
9. ابْنُ جُرَيْجٍ :
الاسم : أبو اليمان الرحال ، المدنى
، اسمه كثير بن يمان ، و قيل كثير بن جريج
الطبقة : 7 : من
كبار أتباع التابعين
روى له : د (
أبو داود )
رتبته عند ابن حجر : مستور
رتبته عند الذهبي : ثقة
10. ابْنِ هُرْمُزَ:
لاسم : ثابت بن هرمز الكوفى ، أبو
المقدام الحداد ، مولى بكر بن وائل ، و يقال مولى بنى عجل بن لجيم ( والد عمرو بن
أبى المقدام )
الطبقة : 6 : من
الذين عاصروا صغارالتابعين
روى له : د س ق
( أبو داود - النسائي - ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر : صدوق يهم
رتبته عند الذهبي : ثقة
11. بُرَيْدِ بْنِ أَبِى مَرْيَمَ:
لاسم : بريد بن أبى مريم : مالك بن
ربيعة السلولى البصرى
الطبقة : 4 :
طبقة تلى الوسطى من التابعين
الوفاة : 144 هـ
روى له : بخ د ت س ق
( البخاري في الأدب المفرد - أبو داود - الترمذي - النسائي - ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر : ثقة
رتبته عند الذهبي : ثقة
12. عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ :
لاسم : الوليد بن مسلم القرشى
مولاهم أبو العباس الدمشقى ، مولى بنى أمية ( و قيل مولى العباس بن محمد بن على بن
عبد الله بن عباس )
الطبقة : 8 : من
الوسطى من أتباع التابعين
الوفاة : 194 أو 195 هـ
روى له : خ م د ت س ق
( البخاري - مسلم - أبو داود - الترمذي - النسائي - ابن ماجه )
رتبته عند ابن حجر : ثقة لكنه كثير التدليس و التسوية
رتبته عند الذهبي : عالم أهل الشام ، قال ابن المدينى : ما رأيت من
الشاميين مثله ، قلت : كان مدلسا ، فيتقى من حديثه ما قال فيه : عن
D.2. Kajian Dari berbagai Kritik Hadits:
السلسلة
الضعيفة - مختصرة - (ج 3 / ص 384 - ما زال رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في صلاة الغداة حتى
فارق الدنيا , ( منكر (
و أما أن الحديث منكر ، فلأنه معارض
لحديثين ثابتين : أحدهما : عن أنس نفسه : "
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت إلا إذا دعى لقوم أو دعى على قوم " . أخرجه الخطيب نفسه في كتابه
" القنوت " من طريق محمد بن عبد الله الأنصاري : حدثنا سعيد بن أبي عروبة عن
قتادة عنه .
الآخر : عن أبي هريرة قال : "
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يقنت في صلاة الصبح إلا أن يدعو لقوم،أو على
قوم".
قال الزيلعي ( 2/130 ) : "
أخرجه ابن حبان عن إبراهيم بن سعد عن سعيد و أبي سلمة عنه . قال صاحب " التنقيح " : و سند هذين الحديثين صحيح ، و
هما نص في أن القنوت مختص بالنازلة " .
قال ابن حنبل و النسائي : ليس بالقوي ، و قال أبو زرعة :
يهم كثيرا ، و قال أبو زرعة : يهم كثيرا ،
و قال الفلاس : سييء الحفظ ، و قال ابن حبان :
يحدث بالمناكير عن المشاهير " .
و قال ابن القيم في " زاد المعاد " ( 1/99 ) : " فأبو
جعفر قد ضعفه أحمد و غيره ، و قال ابن المديني : كان يخلط . و قال أبو زرعة : كان يهم كثيرا .. و قال لي شيخنا ابن تيمية قدس الله روحه : و هذا الإسناد نفسه هو إسناد حديث : *( و إذ أخذ ربك من بني آدم من ظهورهم )*
حديث
و قال الزيلعي في " نصب الراية " ( 2/132 ) بعد
أن خرج الحديث : " و ضعفه ابن الجوزي في " التحقيق " ، و في "
العلل المتناهية " و قال :
هذا حديث لا يصح ، فإن أبا
جعفر الرازي و اسمه عيسى بن ماهان قال ابن المديني : كان يخلط ... " . لكن قال البيهقي في "
المعرفة " كما في " الزيلعي " :
قلت : و للحديث شاهد آخر ، يرويه دينار بن عبد
الله خادم أنس عن أنس قال :
" ما زال رسول الله صلى الله عليه
وسلم يقنت في صلاة الصبح حتى مات " .
أخرجه الخطيب في " كتاب القنوت
" له ، و شنع عليه ابن الجوزي بسببه لأن دينارا
هذا قال ابن حبان فيه : "
يروي عن أنس آثارا موضوعة لا يحل في الكتب إلا على سبيل القدح فيه " . و قد دافع عن الخطيب العلامة
عبد الرحمن المعلمي في كتابه " التنكيل " في فصل خاص عقده لذلك .
سبل السلام - (ج 2 / ص 160) قُلْت : أَجْمَلَهُ هُنَا ، وَذَكَرَهُ فِي تَخْرِيجِ
الْأَذْكَارِ مِنْ رِوَايَةِ الْبَيْهَقِيّ وَقَالَ : " اللَّهُمَّ اهْدِنِي
" الْحَدِيثُ ؛ إلَى آخِرِهِ ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ طُرُقٍ أَحَدُهَا
عَنْ " بُرَيْدٍ " بِالْمُوَحَّدَةِ وَالرَّاءِ تَصْغِيرِ بُرْدٍ ،
وَهُوَ : " ثُقْبَةُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ " ، سَمِعْت ابْنَ
الْحَنَفِيَّةِ وَابْنَ عَبَّاسٍ ، يَقُولَانِ : {كَانَ النَّبِيُّ يَقْنُتُ فِي
صَلَاةِ الصُّبْحِ وَوِتْرِ اللَّيْلِ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ} وَفِي إسْنَادِهِ
مَجْهُولٌ . وَرُوِيَ مِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى وَهِيَ
الَّتِي سَاقَ الْمُصَنِّفُ لَفْظَهَا عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ بِلَفْظِ [يُعَلِّمُنَا
دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِي الْقُنُوتِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ] وَفِيهِ " عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ هُرْمُزَ " ضَعِيفٌ ، وَلِذَا قَالَ الْمُصَنِّفُ [وَفِي
سَنَدِهِ ضَعْفٌ] .
D.3. Kajian
Matan Hadits: Kedudukan Qunut Subuh
Melazimkan
qunut shubuh secara terus menerus menurut pendapat yang paling shahih bukan
merupakan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini
berdasarkan hadits :
حدثنا أحمد بن
منيع أخبرنا يزيد بن هارون عن أبي مالك الأشجعي قال: قلت لأبي: يا أبت إنك قد صليت
خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان وعلي بن أبي طالب هاهنا
بالكوفة، نحوا من خمس سنين، أكانوا يقنتون؟ قال: أي بني محدث.
Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Manii’[3]): Telah
mengkhabarkan kepada kami Yaziid bin Haaruun[4], dari Abu
Maalik Al-Asyja’iy[5], ia berkata :
“Aku pernah bertanya kepada ayahku6 : ‘Wahai ayahku, engkau
pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu
Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy di sini, yaitu di Kuufah selama kurang lebih
lima tahun. Apakah mereka semua melakukan qunut ?”. Ayahku menjawab : “Wahai
anakku, itu adalah perbuatan muhdats (perkara baru yang
tidak pernah mereka lakukan- Abul-Jauzaa’)” [Diriwayatkan oleh
At-Tirmidziy no. 402, dan ia berkata : “Hadits ini hasan shahih”].
Diriwayatkan
juga oleh Ahmad 3/472, Ibnu Maajah no. 1241, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kubraa
8/378 no. 8178, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/249,
Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah 8/97 & 98 no. 101 & 104, dan
Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 13/334-335 dari jalan Yaziid bin
Haaruun, dari Abu Maalik Al-Asyja’iy. Dalam lafadh Ath-Thahawiy disebutkan :
قلت لأبي : يا
أبت، إنك صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم وخلف أبي بكر وخلف عمر وخلف عثمان
وخلف علي رضي الله عنهم ههنا بالكوفة، قريبا من خمس سنين، أفكانوا يقنتون في الفجر
؟. فقال : أي بني، محدث.
Aku bertanya
kepada ayahku : “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan,
dan ‘Aliy di sini di Kuufah hampir selama lima tahun. Apakah mereka semua
melakukan qunut di waktu (shalat) Shubuh ?”. Ayahku menjawab : “Wahai
anakku, itu adalah perbuatan muhdats” [shahih].
Yaziid bin
Haaruun mempunyai mutaba’ah dari :
1.
Hafsh bin Ghiyaats[5] dan ‘Abdullah bin Idriis[6] sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu
Abi Syaibah 2/308 (no. 7034 & 7036), Ibnu Maajah no. 1241, Ath-Thabaraaniy
8/378 no. 8179, dan Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah 8/98 no. 105
[shahih].
2.
Khalaf bin Khaliifah[7] sebagaimana diriwayatkan Ahmad 6/394, An-Nasaa’iy
2/204 dan dalam Al-Kubraa 1/341 no. 671, dan Ibnu Hibbaan no. 1989;
dengan lafadh :
صليت خلف رسول
الله صلى الله عليه وسلم فلم يقنت وصليت خلف أبي بكر فلم يقنت وصليت خلف عمر فلم
يقنت وصليت خلف عثمان فلم يقنت وصليت خلف علي فلم يقنت ثم قال يا بني إنها بدعة.
“Aku shalat di
belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak qunut.
Aku shalat di belakang Abu Bakr, ia tidak qunut. Aku shalat di belakang ‘Umar,
ia tidak qunut. Aku shalat di belakang ‘Utsmaan, ia tidak qunut. Dan aku shalat
di belakang ‘Aliy, ia pun tidak qunut”. Kemudian ayahku berkata : “Wahai
anakku, ia adalah perbuatan bid’ah” [shahih lighairihi].
3.
Abu ‘Awaanah[8] sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 403,
Ath-Thayaalisiy no. 1425, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 8/378 no.
8177, Al-Baihaqiy 2/213, dan Adl-Dliyaa’ 8/97-98 no. 102-103. Ath-Thabaraaniy
dan Adl-Dliyaa’ membawakan dengan lafadh :
سألت أبي عن
القنوت في صلاة الغداة ؟ فقال : أي بني صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم
وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما فلم أر أحدا منهم يقنت، أي بني بدعة. قالها ثلاثا.
Aku bertanya
kepada ayahku tentang qunut pada shalat Shubuh. Ia menjawab : “Wahai
anakku, aku pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, Abu Bakr, dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa, namun aku tidak
melihat salah seorang pun di antara mereka yang melakukan qunut. Wahai anakku,
itu adalah perbuatan bid’ah”. Ia mengatakannya tiga kali [shahih].
4.
Abu Mu’aawiyyah[9] sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Musnad
no. 2766 dan Al-‘Uqailiy 2/484 no. 597.
Lafadh hadits
ini mauquf namun dihukumi marfu’.
Kesimpulan
finalnya, hadits ini shahih, para perawinya tsiqaat, dan sanadnya
bersambung. Dishahihkan juga oleh Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghaliil
2/182-183 no. 435, Al-Wadi’iy dalam Al-Jaami’ush-Shahiih mimmaa Laisa
fish-Shahiihain 2/147, Al-Arna’uth dalam Takhrij Musnad Al-Imam Ahmad 25/214,
dan Basyar ‘Awwaad dalam Takhrij Sunan Ibni Maajah 2/402-403.
Para ulama
berbeda pendapat dalam permasalahan qunut dalam shalat Shubuh. Sedikit akan
saya sebutkan di bawah :
At-Tirmidziy rahimahullah
setelah menyebutkan riwayat tentang qunut Shubuh berkata :
واختلف أهل
العلم في القنوت في صلاة الفجر، فرأى بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه
وسلم وغيرهم القنوت في صلاة الفجر. وهو قول الشافعي.
وقال أحمد،
وإسحق: لا يقنت في الفجر إلا عند نازلة تنزل بالمسلمين، فإذا نزلت نازلة فللإمام
أن يدعو لجيوش المسلمين.
“Para ulama
berbeda pendapat mengenai qunut shalat Shubuh. Sebagian ulama dari kalangan
shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka
berpendapat (masyru’-nya) qunut pada shalat Shubuh. Itu merupakan
perkataan Asy-Syaafi’iy. Ahmad (bin Hanbal) dan
Ishaaq (bin Rahawaih) berkata: ‘Qunut tidak dilakukan pada shalat Shubuh,
kecuali jika ada musibah yang menimpa kaum muslimin. Jika ada musibah yang
menimpa kaum muslimin, maka imam mendoakan (kebaikan/kemenangan) untuk pasukan
kaum muslimin”.
والعمل عليه عند
أكثر أهل العلم. وقال سفيان الثوري إن قنت في الفجر فحسن، وإن لم
يقنت فحسن واختار أن لا يقنت. ولم ير ابن المبارك القنوت في الفجر.
“(Hadits Abu
Maalik Al-Asyja’iy di atas) diamalkan oleh kebanyakan ulama. Sufyaan
Ats-Tsauriy berkata : ‘Apabila seseorang melakukan qunut di waktu shalat
Shubuh, maka itu baik. Jika tidak melakukannya, itu pun baik’. Ia (Ats-Tsauriy)
memilih untuk tidak qunut. Ibnul-Mubaarak tidak berpendapat adanya qunut pada
shalat Shubuh” [Jaami’ At-Tirmidziy, 1/426-427].
Al-‘Uqailiy rahimahullah
berkata :
والصحيح عندنا
أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت ثم ترك. وهذا يذكر أن النبي صلى الله عليه وسلم
لم يقنت.
“Dan yang benar
menurut kami bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah
melakukan qunut, kemudian meninggalkannya. Hadits ini (yaitu hadits Abu Maalik
Al-Asyja’iy di atas – Abul-Jauzaa’) menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam tidak melakukan qunut” [Adl-Dlu’afaa’, 2/484].
Abu Ja’far
Ath-Thahawiy Al-Hanafiy rahimahullah berkata :
إنما لا يقنت
عندنا في الفجر من غير بلية فإن وقعت فتنة أو بلية فلا بأس به فعله رسول الله صلى
الله عليه وسلم أي بعد الركوع
“Bahwasannya
tidak dilakukan qunut dalam shalat Shubuh di sisi kami (madzhab Hanafiyyah)
selain dikarenakan musibah. Apabila terjadi fitnah atau musibah, maka tidak
mengapa. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya,
yaitu setelah rukuk” [Haasyiyyah Ath-Thahthaawiy ‘alaa Maraaqil-Falaah,
hal. 377].
Abul-Husain
Asy-Syaafi’iy Al-Yamaniy rahimahullah berkata :
والسنة : أن
يقنت في صلاة الصبح عندنا في جميع الدهر، وبه قال مالك، والأوزاعي، وابن أبي ليلى،
والحسين بن صالح، ورواه الشافعي عن الخلفاء الأربعة، وأنس. وذهب الثوري
، وأبو حنيفة، وأصحابه إلى : (أنه غير مسنون في
الصبح) ،
ورُويَ ذلك عن ابن عباس، وابن عمر، وابن مسعود، وأبي الدرداء.
وقال أبو يوسف : إذا قنت الإمام.....فاقنتْ
معهُ.....
“Dan sunnah
(dalam permasalahan ini) : Melakukan qunut pada shalat Shubuh menurut kami
setiap waktu. Inilah yang dikatakan Maalik, Al-Auza’iy, Ibnu Abi Lailaa,
Al-Husain bin Shaalih, dan diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dari khalifah yang
empat, dan Anas. Adapun Ats-Tsauriy, Abu Haniifah dan shahabat-shahabatnya
berpendapat : Qunut tidak disunnahkan dalam shalat Shubuh. Diriwayatkan hal itu
dari Ibnu ‘Abbaas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’uud, dan Abud-Dardaa’. Abu Yuusuf
berkata : “Apabila imam melakukan qunut….maka qunutlah bersamanya….” [Al-Bayaan
fii Madzhab Asy-Syaafi’iy, 2/242-243].
Abul-Hasan
Al-Mardawiy berkata ketika menerangkan posisi madzhab Ahmad bin Hanbal rahimahumallaah
:
الصحيح من
المذهب: أنه يكره القنوت في الفجر كغيرها وعليه الجمهور وقال في الوجيز: لا يجوز
القنوت في الفجر. قلت: النص الوارد عن الإمام أحمد لا يقنت في
الفجر محتمل الكراهة والتحريم
“Yang shahih
dari madzhab : Bahwasannya Ahmad memakruhkan qunut di waktu shalat Shubuh
sebagaimana (kemakruhan melakukan qunut) selain shalat witir. Inilah pendapat
jumhur. Dan ia berkata dalam Al-Wajiiz : ‘Tidak boleh melakukan qunut
dalam shalat Shubuh’. Aku berkata : ‘Nash yang ada dari Al-Imam Ahmad : ‘tidak
boleh qunut dalam shalat Shubuh’ dibawa pada pengertian makruh tahrim” [Al-Inshaaf
fii Ma’rifati-Raajih minal-Khilaaf ‘alaa Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal,
2/174].
Ahmad Syaakir rahimahullah
berkata saat menyanggah perkataan Thaariq bin Asyyam bahwasannya qunut
Shubuh adalah muhdats :
ثبت في أحاديث
صحيحة القنوت في الصبح، ومن حفظ حجة على من لم يحفظ. والمثبت مقدم على النافي. وهو
نفل لا واجب. فمن تركه فلا بأس، ومن فعله فهو أفضل.
“Telah tetap
dalam hadits-hadits shahih tentang (masyru’-nya) qunut pada shalat
Shubuh. Orang yang hapal merupakan hujjah bagi orang yang tidak hapal. Yang
menetapkan lebih didahulukan dari yang meniadakan. Barangsiapa yang
meninggalkannya, tidak mengapa. Dan barangsiapa yang mengerjakannya, maka itu afdlal
(lebih utama)” [Syarh Sunan At-Tirmidziy, 2/252].
Menilik
perkataan Ahmad Syaakir di atas – dan juga para ulama mutaqaddimiin - ,
memang benar ada beberapa hadits yang dianggap sebagai hujjah masyru’-nya
qunut Shubuh secara terus-menerus. Di antaranya : Apa yang
dijadikan hujjah oleh madzhab Syaafi’iyyah dan yang lainnya dari Anas bin
Maalik radliyallaahu ‘anhu, sebagaimana dinukil oleh Abul-Husain
Asy-Syaafi’iy Al-Yamaniy rahimahullah adalah hadits berikut :
وحدثني عمرو
الناقد وزهير بن حرب. قالا: حدثنا إسماعيل عن أيوب، عن محمد. قال: قلت لأنس : هل
قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في صلاة الصبح؟ قال: نعم. بعد الركوع يسيرا.
Dan telah
menceritakan kepadaku ‘Amru An-Naaqid dan Zuhair bin Harb, mereka berdua
berkata : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil, dari Ayyuub, dari Muhammad,
ia berkata : Aku bertanya kepada Anas : “Apakah Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam melakukan qunut pada shalat Shubuh ?”. Ia menjawab :
“Benar, sebentar setelah rukuk” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 677 (298).
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 1001, Ibnu Maajah no. 1184, Abu Daawud
no. 1444, dan yang lainnya].
Akan tetapi,…..
mari kita perhatikan jalan periwayatan yang lainnya dari Anas :
وحدثني عبيدالله
بن معاذ العنبري وأبو كريب وإسحاق بن إبراهيم. ومحمد بن عبدالأعلى (واللفظ لابن
معاذ) حدثنا المعتمر بن سليمان عن أبيه، عن أبي مجلز، عن أنس بن مالك : قنت
رسول الله صلى الله عليه وسلم شهرا بعد الركوع. في صلاة الصبح. يدعو على رعل
وذكوان. ويقول "عصية عصت الله ورسوله".
Dan telah
menceritakan kepadaku ‘Ubaidullah bin Mu’aadz Al-‘Anbariy, Abu Kuraib, Ishaaq
bin Ibraahiim, Muhammad bin ‘Abdil-A’laa – dan lafadh hadits ini adalah milik
Ibnu Mu’aadz - : Telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir bin Sulaimaan, dari
ayahnya, dari Abu Mijlaz, dari Anas bin Maalik : Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan setelah rukuk dalam shalat
Shubuh. Beliau mendoakan kejelekan kepada Bani Ri’l, dan Bani Dzakwaan, dan
bersabda : “’Ushayyah telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”
[Diriwayatkan oleh Muslim no. 677 (299).
Diriwayatkan
juga oleh Al-Bukhaariy no. 1003 & 4094].
حدثنا محمد بن
المثنى. حدثنا عبدالرحمن. حدثنا هشام عن قتادة، عن أنس؛ أن رسول الله صلى الله
عليه وسلم قنت شهرا. يدعو على أحياء من أحياء العرب. ثم تركه.
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada
kami ‘Abdurrahmaan : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam, dari Qataadah,
dari Anas : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah
melakukan qunut selama sebulan mendoakan kejelekan kepada sebagian orang-orang
‘Arab, kemudian beliau meninggalkannya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 677
(304). Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhaariy no. 4089].
أنا أبو طاهر نا
أبو بكر نا محمد بن محمد بن مرزوق الباهلي حدثنا محمد بن عبد الله الأنصاري حدثنا
سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت إلا
إذا دعا القوم أو دعا على قوم
Telah memberitakan
kepada kami Abu Thaahir[10] : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr[11] :
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Marzuuq Al-Baahiliy[12] :
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah Al-Anshaariy[13] :
Telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi ‘Aruubah[14], dari Qataadah[15],
dari Anas : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak
melakukan qunut, kecuali jika mendoakan kebaikan pada satu kaum atau mendoakan
kejelekan pada satu kaum” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 620; shahih].[16]
Tiga hadits di
atas menjelaskan bahwa qunut Shubuh yang dimaksudkan Anas adalah qunut nazilah
karena peristiwa Bi’r Ma’uunah. Itupun tidak dilakukan terus-menerus, karena
hanya dilakukan selama sebulan dan kemudian ditinggalkan. Timbul pertanyaan
lanjutan, apakah qunut tersebut hanya dilakukan khusus pada shalat Shubuh ?
Perhatikan riwayat berikut :
حدثنا عبد اللّه
بن معاوية الجمحي، ثنا ثابت بن يزيد، عن هلال بن خباب، عن عكرمة، عن ابن عباس قال
: قَنَتَ رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم شهراً متتابعاً في الظهر والعصر والمغرب
والعشاء وصلاة الصبح في دبر كل صلاة إذا قال : "سمع اللّه لمن
حمده" من الركعة الآخرة يدعو على أحياء من بني سليم على رعلٍ وذكوان وعصية،
ويؤمّن من خلفه.
Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Mu’aawiyyah Al-Jumahiy[17] :
Telah menceritakan kepada kami Tsaabit bin Yaziid[18], dari Hilaal bin Khabbaab[19],
dari ‘Ikrimah[20], dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan penuh pada shalat Dhuhur,
‘Ashar, Maghrib, ‘Isyaa’, dan Shubuh pada akhir setiap shalat, yaitu saat
beliau berkata : ‘sami’allaahu liman hamidah’ di raka’at terakhir.
Beliau mendoakan kejelekan pada orang-orang Bani Sulaim, Bani Ri’l, Bani
Dzakwaan, dan Bani ‘Ushayyah; serta diaminkan orang-orang yang di belakang
beliau (makmum)” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1443; hasan].
حدثنا عبد
الرحمن بن إبراهيم ثنا الوليد ثنا الأوزاعي حدثني يحيى بن أبي كثير حدثني أبو سلمة
بن عبد الرحمن عن أبي هريرة قال : قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم في صلاة
العتمة شهرا يقول في قنوته اللهم نج الوليد بن الوليد اللهم نج سلمة بن هشام اللهم
نج المستضعفين من المؤمنين اللهم اشدد وطأتك على مضر اللهم اجعلها عليهم سنين كسني
يوسف قال أبو هريرة وأصبح رسول الله صلى الله عليه وسلم ذات يوم فلم يدع لهم فذكرت
ذلك له فقال وما تراهم قد قدموا
Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibraahiim[21] : Telah menceritakan
kepada kami Al-Waliid[22] : Telah menceritakan kepada kami Al-Auza’iy[23] :
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Abi Katsiir[24] : Telah menceritakan
kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Hurairah : Bahwasannya
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut pada
shalat ‘atamah (Maghrib dan/atau ‘Isya’) selama sebulan dan berdoa : “Ya
Allah, selamatkanlah Al-Waliid bin Al-Waliid. Ya Allah, selamatkanlah Salamah
bin Hisyaam. Ya Allah, selamatkanlah orang-orang lemah dari kalangan mukminiin.
Ya Allah, keraskanlah tekanan (‘adzab) kepada Bani Mudlar. Ya Allah, jadikanlah
hal itu terjadi atas mereka selama bertahun-tahun seperti pada masa Yuusuf”.
Abu Hurairah berkata : “Pada satu hari di waktu Shubuh Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam tidak lagi mendoakan mereka. Maka aku pun menanyakan
permasalahan itu pada beliau, lalu beliau bersabda : ‘Apa pendapatmu tentang
mereka sementara mereka telah meninggal ?” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud
no. 1442; shahih].
حدثنا محمد بن
المثنى. حدثنا معاذ بن هشام. حدثني أبي عن يحيى بن أبي كثير. قال: حدثنا أبو سلمة
بن عبد الرحمن؛ أنه سمع أبا هريرة يقول : والله! لأقربن بكم صلاة رسول الله صلى
الله عليه وسلم. فكان أبو هريرة يقنت في الظهر. والعشاء الآخرة. وصلاة الصبح.
ويدعو للمؤمنين. ويلعن الكفار
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsannaa : Telah menceritakan kepada
kami Mu’aadz bin Hisyaam : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Yahyaa bin
Abi Katsiir, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin
‘Abdirrahmaan[25], bahwasannya ia pernah mendengar Abu Hurairah berkata : “Demi
Allah, sungguh aku akan dekatkan kalian dengan shalat Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam”. Maka Abu Hurairah melakukan qunut pada shalat Dhuhur,
‘Isyaa’ yang akhir, dan Shubuh dengan mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan
melaknat orang-orang kafir” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 676 (296)].
Tiga riwayat di
atas menunjukkan qunut beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya
dilakukan di waktu Shubuh, akan tetapi di waktu-waktu shalat yang lain.
Ringkasnya, tidak ada pendalilan untuk hadits Anas di atas sebagai hujjah masyru’-nya
qunut pada shalat Shubuh secara terus-menerus secara khusus.
Ada riwayat
lain yang menjadi hujjah masyru’-nya qunut Shubuh secara terus-menerus,
yaitu hadits Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu yang lain :
حدثنا ثنا عبد
الرزاق قال ثنا أبو جعفر يعني الرازي عن الربيع بن أنس عن أنس بن مالك قال ما زال
رسول الله صلى الله عليه وسلم يقنت في الفجر حتى فارق الدنيا
Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada
kami Abu Ja’far – yaitu Ar-Raaziy[26] - , dari Ar-Rabii’ bin Anas[27],
dari Anas bin Maalik, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam senantiasa melakukan qunut di waktu Shubuh hingga meninggal dunia”
[Diriwayatkan oleh Ahmad 3/162].
Diriwayatkan
juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 4963, Ad-Daaruquthniy 2/370-372 no. 1692-1694, Ibnu
Abi Syaibah 2/312, Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 556, Ath-Thahawiy
dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/244, Al-Baihaqiy 2/201, Al-Baghawiy dalam
Syarhus-Sunnah no. 639, Al-Haazimiy dalam Al-I’tibaar hal. 86,
Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah no. 2128; semuanya dari jalan Abu Ja’far
Ar-Raaziy.
Al-Baihaqiy
berkata : “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah”.
Perkataannya
Al-Baihaqiy ini layak mendapat kritik. Hadits ini lemah, bahkan munkar.
Riwayat Abu Ja’far Ar-Raaziy tidak diterima jika menyendiri atau menyelisihi
riwayat para perawi tsiqaat, karena jeleknya hapalannya. Dalam riwayat
Ad-Daaruquthniy dibawakan dengan lafadh :
أن النبي صلى
الله عليه وسلم قنت شهرا يدعوا عليهم ثم تركه وأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق
الدنيا
“Bahwasannya
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan qunut selama
sebulan untuk mendoakan kejelekan pada mereka, kemudian meninggalkannya. Adapun
untuk (qunut) pada shalat Shubuh, maka beliau senantiasa melakukannya hingga
meninggal dunia”.
Riwayat Anas
bin Maalik yang dibawakan Abu Ja’far ini menyelisihi riwayat yang telah
disebutkan di atas dari Anas yang menyebutkan beliau shallallaahu ‘alaihi wa
sallam hanya qunut nazilah selama sebulan kemudian berhenti (HR.
Al-Bukhaariy no. 4089 dan Muslim no. 677). Anas pun memberi kesaksian bahwa
beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan qunut
kecuali qunut nazilah dengan mendoakan kebaikan atau kejelekan pada satu
kaum (HR. Ibnu Khuzaimah no. 620). Apalagi Ibnu ‘Abbaas menguatkan kesaksian
tersebut (HR. Ibnu Khuzaimah no. 619). Oleh karena itu, riwayatnya di sini munkar.
Ar-Rabii’ bin
Anas mempunyai mutaba’ah dari :
1.
Al-Hasan Al-Bashriy.
حدثنا ابن أبي
داود قال : ثنا أبو معمر، قال : ثنا عبد الوارث، قال : ثنا عمرو بن عبيد، عن
الحسن، عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فلم
يزل يقنت في صلاة الغداة، حتى فارقته، وصليت مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه فلم
يزل يقنت في صلاة الغداة حتى فارقته.
Telah
menceritakan kepada kami Ibnu Abi Daawud, ia berkata : Telah menceritakan
kepada kami Abu Ma’mar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami
‘Abdul-Waarits, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ubaid,
dari Al-Hasan, dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
“Aku pernah shalat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka
beliau senantiasa qunut pada shalat Shubuh hingga meninggal dunia. Dan aku pun
pernah shalat bersama ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu, maka
ia senantiasa qunut pada shalat Shubuh hingga meninggal dunia” [Diriwayatkan
oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar, 1/243].
Diriwayatkan
juga oleh Al-Baihaqiy 2/202 dan Ad-Daaruquthniy 2/372-373 no. 1695-1698.
‘Amru bin
‘Ubaid At-Tamiimiy Al-Bashriy Al-Mu’taziliy menjadi penyakit utama dalam sanad
hadits ini. Ia seorang yang matruuk sebagaimana dikatakan ‘Amru bin
‘Aliy dan Abu Haatim. Bahkan, Yuunus bin ‘Ubaid menyatakan ia telah memalsukan
hadits. Humaid mengatakan ia telah memalsukan hadits dari Al-Hasan Al-Bashriy.
Mu’aadz bin Mu’aadz dan Ayyuub mengatakan ia pendusta. Dan yang lainnya banyak
sekali celaan para muhaddits terhadapnya dengan celaan-celaan yang berat
[selengkapnya lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 8/70-75 no. 108]. Maka,
riwayat ini tidak layak untuk dilirik karena sangat lemah, bahkan palsu.
Ada jalur lain
yang dibawakan Ad-Daaruquthniy (2/373 no. 1698) dari Ismaa’iil Al-Makkiy dari
Al-Hasan, dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu :
حدثنا إبراهيم
بن حماد ثنا عباد بن الوليد ثنا قريش بن أنس ثنا إسماعيل المكي وعمرو عن الحسن قال
: قال لي أنس قنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع عمر حتى فارقتهما
Telah
menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Hammaad[28] : Telah menceritakan kepada
kami ‘Abbaad bin Al-Waliid[29] : Telah menceritakan kepada kami Quraisy bin
Anas[30] : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil Al-Makkiy[31] dan
‘Amru, dari Al-Hasan, ia berkata : Telah berkata kepadaku Anas : “Aku melakukan
qunut bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bersama
‘Umar hingga keduanya berpisah denganku (meninggal dunia)”.
Diriwayatkan
juga oleh Al-Baihaqiy 2/202 dari jalan Quraisy bin Anas yang selanjutnya seperti
riwayat Ad-Daaruquthniy
Hadits ini
sangat lemah, karena faktor Ismaa’il Al-Makkiy.
2.
Qataadah
أخبرنا أبو عبد
الله الحافظ ثنا علي بن حمشاذ العدل ويحيى بن محمد بن عبد الله العنبري قالا ثنا
أبو عبد الله محمد بن إبراهيم العبدي ثنا عبد الله بن محمد النفيلي ثنا خليد بن
دعلج عن قتادة عن أنس بن مالك رضى الله تعالى عنه قال صليت خلف رسول الله صلى الله
عليه وسلم فقنت وخلف عمر فقنت وخلف عثمان فقنت
Telah
mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh[32] : Telah menceritakan
kepada kami ‘Aliy bin Hamasyaadz Al-‘Adl[33] dan Yahyaa bin Muhammad bin
‘Abdillah Al-‘Anbariy, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada
kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ibraahiim Al-‘Abdiy[34] : Telah menceritakan
kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad An-Nufailiy[35] : Telah menceritakan
kepada kami Khaliid bin Dal’aj[36], dari Qataadah[37], dari
Anas bin Maalik radliyallaahu ta’aala ‘anhu, ia berkata : “Aku pernah
shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka
beliau melakukan qunut. Di belakang ‘Umar, ia qunut, dan di belakang ‘Utsmaan,
ia pun qunut” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy 2/202].
Hadits ini
lemah lagi munkar. Penyakitnya ada pada Khaliid bin Dal’aj, seorang yang
dla’iif yang meriwayatkan beberapa hadits munkar dari Qataadah.
Dan ini sebagian di antaranya.
Selain itu,
riwayat Anas yang menyatakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan
para Khulafaur-Raasyidin setelah melakukan qunut Shubuh secara terus-menerus
sangat nyata bertentangan persaksian Thaariq bin Asyyam bin Mas’uud Al-Asyja’iy
(yang disebutkan di awal bahasan) bahwasannya beliau shallallaahu ‘alaihi wa
sallam tidak melakukan qunut Shubuh (secara terus), dan hal itu berjalan
hingga kekhalifahan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.
Kembali pada
bahasan hadits Abu Maalik Al-Asyja’iy di awal,……
Hadits tersebut
mengkhabarkan pada kita bahwa qunut pada waktu shalat Shubuh yang dilakukan secara
terus-menerus – sebagaimana dilakukan sebagian kaum muslimin – tidak ada
contohnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Begitu juga di
era Al-Khulafaur-Raasyidin setelahnya. Seandainya memang perbuatan itu
dicontohkan, sudah pasti Thaariq bin Asyyam bin Mas’uud Al-Asyja’iy radliyallaahu
‘anhu akan memberikan kesaksian lain. Jika kita menggunakan bahasa riwayat,
maka qunut shubuh secara terus-menerus adalah muhdats atau bid’ah.
Pandangan Muhammadiyah,
sebagaimana dalam Muktamar Tarjih tidak sependapat dengan pemahaman tersebut,
berdasarkan pemikiran bahwa:
1.
Setelah
diteliti kumpulan macam-macam hadits tentang qunut, maka Muktamar
berpendapat bahwa qunut sebagai bagian daripada shalat, tidak khusus
hanya diutamakan pada shalat shubuh.
2.
Bacaan:
… الخ اَللَّهُمَّ
اهْدِنِي فِيْمَنْ هَدَيْتَ
Bacaan Qunut
Riwayat hasan dalam shalat shubuh itu tidak dibenarkan. (HPT: 368). , dan
haditsnya masih
diperbincangkan oleh ahli hadits.
E.
Penutup
Terdapat satu
pelajaran penting bagi kita semua bahwa khilaf permasalahan ini telah ada,
minimal sejak era tabi’iin. Tidak mungkin Abu Maalik Al-Asy’ja’iy
bertanya kepada ayahnya tentang qunut yang dilakukan manusia secara terus
menerus pada shalat Shubuh jika ia tidak menyaksikannya atau mendengarnya. Oleh
karena itu, kita perlu lapang dada dalam permasalahan ini; baik mereka yang
berpendapat masyru’-nya qunut Shubuh atau yang tidak.
Yang
berpendapat masyru’, maka tidak perlu sewot jika ada yang mengatakan
bahwa qunut Shubuh yang dilakukan terus menerus adalah perbuatan muhdats
atau bid’ah, karena pihak yang berseberangan dengan mereka telah
menggunakan sebaik-baik lafadh yang diriwayatkan secara shahih dari shahabat radliyallaahu
‘anhu. Sebaliknya, pihak yang berpendapat tidak masyru’ tidak perlu
memaksakan pendapatnya untuk diaminkan pihak lain. Dan keduanya tidak perlu
bubar memisahkan diri dari jama’ah, lalu membuat jama’ah baru karena imam yang
ada melakukan sesuatu yang berlainan dengan apa yang diperbuatnya. Semuanya ini
masih dalam ruang toleransi khilaf ijtihadiyyah yang diperbolehkan, walau
kewajiban setiap kaum muslimin mengambil apa yang dianggapnya kuat menurut kadar
pengetahuan yang dimilikinya. Wallaahu a’lam bish-shawwaab
[1] . Dikutip dalam : http://www.darussalaf.or.id/manhaj/hukum-qunut-subuh-2,
[2] . Himpunan Putusan Tarjih
, halm: 367
[3]. Ahmad bin Manii’ bin ‘Abdirrahmaan Abu
Ja’far Al-Baghawiy Al-Asham; seorang yang tsiqah lagi haafidh
(160-244). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib,
hal. 100 no. 115].
4. Thaariq
bin Asyyam bin Mas’uud Al-Asyja’iy; salah seorang shahabat Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam [idem, hal. 461 no. 3013].
[5]
Hafsh bin Ghiyaats bin Thalq bin
Mu’aawiyyah bin Maalik bin Al-Haarits An-Nakha’iy Abu ‘Umar Al-Kuufiy; seorang
yang tsiqah lagi faqiih, namun sedikit berubah hapalannya di
akhir usianya (w. 194/195 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 260 no. 1439].
[6]
‘Abdullah bin Idriis bin Yaziid bin
‘Abdirrahmaan bin Al-Aswad Al-Audiy Abu Muhammad Al-Kuufiy; seorang yang tsiqah,
faqiih, lagi ‘aabid (120-192 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim
dalam Shahih-nya [idem, hal. 491 no. 3224].
[7]
Khalaf bin Khaliifah bin Shaa’id bin
Baraam Al-Asyja’iy Abu Ahmad Al-Waasithiy Al-Kuufiy; seorang yang shaduuq,
namun bercampur hapalannya di akhir usianya (91/92-181 H). Dipakai Muslim dalam
Shahih-nya [idem, hal. 299 no. 1741].
[8]Al-Wadldlaah
bin ‘Abdillah Al-Yasykuuriy Abu ‘Awaanah Al-Waasithiy Al-Bazzaaz; seorang yang tsiqah
lagi tsabat (w. 175/176 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 1036 no. 7457].
[9]Muhammad bin
Khaazim At-Tamiimiy As-Sa’diy Abu Mu’aawiyyah Adl-Dlariir Al-Kuufiy; seorang
yang tsiqah (113-194/195 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 840 no. 5878].
[10]
Ia adalah Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin
Ishaaq bin Khuzaimah Abu Thaahir An-Naisaabuuriy, cucu Ibnu Khuzaimah; seorang
imam yanng jaliil [lihat : Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 16/490-491
no. 360].
[11]
Ia adalah Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah bin
Al-Mughiirah bin Shaalih bin Bakr, Abu Bakr As-Sulamiy An-Naisaabuuriy – yang
terkenal dengan nama Ibnu Khuzaimah; seorang haafidh, hujjah, faqiih,
lagi tsiqah (223-331 H) [lihat : Siyaru A’laamin-Nubalaa’,
14/365-382 no. 214].
[12]
Muhammad bin Muhammad bin Marzuuq bin
Bukair/Bakr Al-Baahiliy Abu ‘Abdillah Al-Bashriy; seorang yang shaduuq
(w. 248 H). Dipakai oleh Muslim dalam Shahih-nya [Taqriibut-Tahdziib,
hal. 893-894 no. 6311].
[13]
Muhammad bin ‘Abdillah bin Al-Mutsannaa bin ‘Abdillah
bin Anas bin Maalik Al-Anshaariy Abu ‘Abdillah Al-Bashriy; seorang yang tsiqah
(w. 215 H). Dipakai oleh Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem,
hal. 865 no. 6084].
[14]
Sa’iid bin Abi ‘Aruubah; seorang yang tsiqah
haafidh, lagi mempunyai banyak tulisan. Akan tetapi ia mengalami
percampuran dalam hapalan (ikhtilaath) (w. 156/157 H). Dipakai oleh
Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 384 no.
2378].
[15]
Qataadah bin Di’aamah bin Qataadah As-Saduusiy;
seorang yang tsiqah lagi tsabat, namun banyak melakukan tadliis.
Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem hal. 798
no. 5553, Ta’riifu Ahlit-Taqdis hal. 102 no. 92, Al-Mudallisiin
lil-‘Iraaqiy hal. 79-80 no. 49, dan Riwaayaatul-Mudallisiin fii Shahiih
Al-Bukhaariy hal. 483-484].
[16]
Dikuatkan oleh hadits :
أنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن يحيى نا أبو داود حدثنا إبراهيم
بن يعد عن الزهري عن سعيد وأبي سلمة عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان
لا يقنت إلا ان يدعو لأحد أو يدعو على أحد وكان إذا قال سمع الله لمن حمده قال
ربنا ولك الحمد اللهم أنج وذكر الحديث
Telah memberitakan kepada kami Abu Thaahir : Telah mengkhabarkan
kepada kami Abu Bakr : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Yahyaa :
Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Daawud : Telah menceritakan kepada kami
Ibraahiim bin Sa’d, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid dan Abu Salamah, dari Abu
Hurairah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak
melakukan qunut kecuali jika hendak mendoakan kebaikan kepada seseorang atau
mendoakan kejelekan kepada seseorang. Jika beliau berkata : ‘sami’allaahu
liman hamidahu’, beliau berkata : ‘rabbanaa wa lakal-hamdu, allaahumma
anji….’ Kemudian ia menyebutkan haditsnya [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah
no. 619; shahih].
[17]
‘Abdullah bin Mu’aawiyyah bin Muusaa Al-Jumahiy
Abu Ja’far Al-Bashriy; seorang yang tsiqah (w. 243 H) [idem, hal.
548 no. 3655].
[18]
Tsaabit bin Yaziid Al-Ahwal Abu Zaid Al-Bashriy;
seorang yang tsiqah lagi tsabat (w. 169 H). Dipakai Al-Bukhaariy
dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 187 no. 842].
[19]
Hilaal bin Khabaab Al-‘Abdiy Abul-‘Alaa’
Al-Bashriy; seorang yang shaduuq, namun hapalannya berubah di akhir
usianya (w. 144 H) [idem, hal. 1026 no. 7384].
[20]
‘Ikrimah Al-Qurasyiy Al-Haasyimiy Abu ‘Abdillah
Al-Madaniy; seorang yang tsiqah, tsabat, lagi ‘aalim
terhadap tafsir (w. 105 H dalam usia 80 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim
dalam Shahih-nya [idem, hal. 687-688 no. 4707].
[21]
‘Abdurrahmaan bin Ibraahiim bin ‘Amru
Al-Qurasyiy Al-‘Utsmaaniy Ad-Dimasyqiy Abu Sa’iid, terkenal dengan julukan
Duhaim; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi mutqin (170-245
H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya [idem, hal. 569 no.
3817].
[22]
Al-Waliid bin Muslim Al-Qurasyiy Abul-‘Abbaas
Ad-Dimasyqiy; seorang yang tsiqah, namun banyak melakukan tadlis
taswiyyah (119-194/195 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 1041 no. 7506]. Dalam hadits ini ia menyatakan tashrih penyimakan
riwayat dari gurunya.
[23]
‘Abdurrahmaan bin ‘Amru bin Abi ‘Amru
Asy-Syaamiy Ad-Dimasyqiy Abu ‘Amru Al-Auzaa’iy; seorang yang tsiqah, jaliil,
lagi faqiih (w. 157 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya
[idem, hal. 593 no. 3992].
[24]
Yahyaa bin Abi Katsiir Ath-Thaaiy Abu Nashr
Al-Yamaamiy; seorang yang tsiqah lagi tsabat, akan tetapi
melakukan tadlis dan irsal (w. 132 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan
Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 1065 no. 7682].
[25]
Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan bin ‘Auf
Al-Qurasyiy Az-Zuhriy; seorang yang tsiqah lagi banyak haditsnya (94 H
dalam usia 72 tahun). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem,
hal. 1155 no. 8203].
[26]
Ia adalah
‘Iisaa bin Abi ‘Iisaa Maahaan Abu Ja’far Ar-Raaziy (w. 160 H).
Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad, dari ayahnya : “Tidak kuat dalam
hadits”. Telah berkata Hanbal, dari Ahmad : “Shaalihul-hadiits”. Telah
berkata ‘Aliy bin Sa’iid bin Jariir dari Ahmad : “Mudltharibul-hadiits”.
Telah berkata Ishaaq bin Manshuur dari Ibnu Ma’iin : “Tsiqah”. Telah
berkata Ibnu Abi Maryam, dri Ibnu Ma’iin : “Ditulis haditsnya, akan tetapi ia
sering keliru”. Telah berkata Ibnu Abi Khaitsamah dari Ibnu Ma’iin : “Shaalih”.
Telah berkata Ad-Duuriy dari Ibnu Ma’iin : “Tsiqah. Dan ia sering keliru
dalam hadits yang ia riwayatkan dari Mughiirah”. Telah berkata ‘Abdullah bin
‘Aliy bin Al-Madiiniy dari ayahnya : “Ia seperti Muusaa bin ‘Ubaidah. Ia sering
kacau dalam hadits yang ia riwayatkan dari Mughiirah dan yang sepertinya”.
Telah berkata Muhammad bin ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, dari ‘Aliy bin Al-Madiiniy
: “Ia di sisi kami tsiqah”. Ibnu ‘Ammaar Al-Maushiliy berkata : “Tsiqah”.
‘Amru bin ‘Aliy berkata : “Padanya adalah kelemahan, dan ia termasuk orang
jujur yang jelek hapalannya”. Abu Zur’ah berkata : “Syaikh, banyak ragu”. Abu
Haatim : “Tsiqah, shaduuq, shaalihul-hadiits”. Zakariyya
As-Saajiy berkata : “Shaduuq, akan tetapi tidak mutqin”.
An-Nasaa’iy berkata : “Tidak kuat”. Ibnu Khiraasy berkata : “Shaduuq,
jelek hapalannya”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia mempunyai hadits-hadits yang baik.
Orang-orang telah meriwayatkan darinya. Hadits-haditsnya secara umum adalah
lurus, dan aku harap tidak mengapa dengannya”. Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah”.
Ibnu Hibbaan berkata : “Ia sering menyendiri dalam periwayatan dari orang-orang
terkenal dengan hadits-hadits munkar. Tidak membuatku kagum berhujjah dengan
haditsnya, kecuali yang berkesesuaian dengan para perawi tsiqaat”.
Al-‘Ijliy berkata : “Tidak kuat”. Al-Haakim berkata : “Tsiqah”. Ibnu ‘Abdil-Barr
berkata : “Ia di sisi mereka adalah orang yang tsiqah”. Al-‘Uqailiy
menyebutkannya dalam Adl-Dlu’afaa’. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq,
jelek hapalannya” [Tahdziibut-Tahdziib 12-56-57 no. 221 dan Taqriibut-Tahdziib
hal. 1126 no. 8077].
Kesimpulan : Pada asalnya ia seorang yang jujur, namun tidak tetap
kedlabithannya. Riwayatnya tidak diterima jika menyendiri atau bahkan
bertentangan dengan riwayat milik perawi tsiqaat – sebagaimana
diisyaratkan oleh Ibnu Hibbaan, wallaahu a’lam.
[27]
Ar-Rabii’ bin Anas Al-Bakriy Al-Hanafiy
Al-Bashriy; seorang yang shaduuq, namun memiliki beberapa keraguan (w.
140 H) [Taqriibut-Tahdziib hal. 318 no. 1892].
[28]
Ibraahiim bin
Hammaad bin Ishaaq Al-Azdiy; seorang yang tsiqah (240-323 H) [Taraajim
Rijaal Ad-Daaruquthniy, hal. 65 no. 116].
[29]
‘Abbaad bin Al-Waliid bin Khaalid Al-Ghubariy,
Abu Badr Al-Muaddib; seorang yang shaduuq (w. 258/262 H) [Taqriibut-Tahdziib,
hal. 483 no. 3168].
[30]
Quraisy bin Anas Al-Anshaariy, Abu Anas
Al-Bashriy; seorang yang shaduuq, namun berubah hapalannya di akhir
usianya (w. 208 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem,
hal. 801 no. 5578].
[31]
Ismaa’iil bin Muslim Al-Makkiy, Abu Ishaaq
Al-Bashriy; seorang yang telah disepakati kelemahannya. An-Nasaa’iy berkata : “Matruukul-hadiits,
tidak tsiqah”. Ahmad berkata : “Munkarul-hadiits”. Ibnu Ma’iin
berkata : “Laisa bi-syai’ (tidak ada apa-apanya)”. Al-Bukhaariy berkata
: “Yahyaa, Ibnu Mahdiy, dan Ibnul-Mubaarak meninggalkannya”. Ibnu ‘Adiy berkata
: “Haditsnya-haditsnya tidak mahfuudh dari ia riwayatkan dari penduduk
Hijaaz dan Bashrah…”. Ibnu Hibbaan berkata : “Ia meriwayatkan riwayat-riwayat munkar
dari para perawi terkenal…” [lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 1/331-333
no. 598 dan Natsnun-Nabaal hal. 214-216 no. 385].
[32]
Muhammad bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Hamdawaih bin Nu’aim bin
Al-Hakam Adl-Dlabbiy Ath-Thuhmaaniy An-Naisaabuuriy, Al-Haafidh Abu ‘Abdillah
Al-Haakim; seorang imam, tsiqah, pemilik banyak tulisan (321-405) [lihat
: Syuyuukh Al-Baihaqiy no. 141].
[33]
‘Aliy bin Hamsyaadz bin Sakhtuwaih bin Nashr
Al-‘Adl; seorang imam, haafidh, lagi tsiqah (258-338) [Siyaru
A’laamin-Nubalaa’, 15/398-400 no. 221].
[34]
Muhammad bin Ibraahiim bin Sa’iid bin
‘Abdirrahmaan Al-‘Abdariy, Abu ‘Abdillah Al-Busyanjiy Al-Faqiih; seorang yang tsiqah
lagi haafidh (w. 290/291 H). Dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya
[Taqriibut-Tahdziib, hal.819 no. 5729].
[35]
‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aliy bin Nufail
Al-Qadlaa’iy Abu ja’far An-Nufailiy; seorang yang tsiqah lagi haafidh
(w. 234 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem,
hal. 543 no. 3619].
[36]
Khaliid bin Dal’aj As-Saduusiy Al-Bashriy (w.
166 H). Ibnu Ma’iin berkata : “Dla’iiful-hadiits”. Di lain tempat ia
berkata : “Laisa bi-syai’ (tidak ada apa-apanya)”. An-Nasaa’iy berkata :
“Tidak tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Shaalih, tidak kokoh dalam
hadits. Ia telah meriwayatkan dari Qataadah beberapa hadits yang sebagiannya munkar.
Ad-Daaruquthniy menyebutkannya dalam jajaran perawi matruk (ditinggalkan
haditsnya)”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Secara umum hadits-hadits ada mutaba’ah dari
selainnya, dan sebagian di antaranya ada pengingkaran. Akan tetapi ia bukan
seorang yang sangat munkar haditsnya”. Abu Daawud dan As-Saajiy berkata
: “Dla’iif” [selengkapnya lihat : Tahdziibut-Tahdziib, 3/158-159
no. 301].
[37]
Qataadah bin Di’aamah bin Qataadah As-Saduusiy;
seorang yang tsiqah lagi tsabat, namun banyak melakukan tadliis.
Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [Taqribut-Tahdziib
hal. 798 no. 5553, Ta’riifu Ahlit-Taqdis hal. 102 no. 92, Al-Mudallisiin
lil-‘Iraaqiy hal. 79-80 no. 49, dan Riwaayaatul-Mudallisiin fii Shahiih
Al-Bukhaariy hal. 483-484].